12.19.2012

Bani Umayyah


Makalah Sejarah Pendidikan Islam Klasik
Masa Bani Umayyah 

BAB I
PENDAHULUAN
        Memasuki masa kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal pemerintahan  Bani Umayyah ini, pemerintahan yang awalnya bersifat Demokrasi menjadi Monarciheridetis(kerajaan turun menurun).[1] Mengenai pendidikan Islam pada masa periode Dinasti Umayyah ini hampir sama dengan pendidikan pada masa Khulafa Ar-Rasyiddin. Hanya saja ketika ekspansi yang di lakukan berhasil meluas, tentang ilmu Pendidikan pun ikut berkembang dari pada masa Khulafa’ur Rasyidin.
        Secara esensial, pendidikan islam pada masa dinasti umayyah ini hampir sama dengan pendidikan pada masa khulafa’ Ar-Rasyidin. Hanya saja memang ada sisi perbedaan dan perkembangannya sendiri. Disamping melakukan ekspansi territorial, pemerintahan dinasti bani Umayyah juga menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan  dengan menyediakan sarana dan pra sarana. Hal ini di lakukan agar para ilmuwan , seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang di kuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu yang berkembang sekarang ini adalah:
1.            Ilmu Agama
2.            Ilmu sejarah dan geografi
3.            Ilmu pengetahuan bidang bahasa
4.            Ilmu bidang filsafat

                                                                               




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Singkat Tentang Dinasti Bani Umayyah [41-132 H/661-750]
              Memasuki masa kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal pemerintahan  Bani Umayyah ini, pemerintahan yang awalnya bersifat Demokrasi menjadi Monarciheridetis(kerajaan turun menurun). Namun, sesungguhnya Sejarah pembentukan dinasti Umayyah bermula pada era dualisme kepemimpinan di dunia Islam pasca wafatnya Khalifah ‘Alî ra. tanggal 17 Ramadlan tahun 40 H / 660 M. Dinamakan dualisme, karena pada satu pihak Mu’âwiyah ra. dibai’at sebagai khalifah oleh penduduk Syâm, sementara al-Hasan ibn ‘Alî ra. juga dinobatkan sebagai khalifah oleh sebagian sahabat dan penduduk Kufah pada tanggal 25 Ramadlan 40 H.
              Melihat gelagat yang tidak baik, al-Hasan, segera berdamai dengan Mu’âwiyah, Karakter al-Hasan memang sangat benci pertumpahan darah sesama muslim, sehingga secara prinsipil ia memandang bahwa kemaslahatan itu terletak pada kesatuan dan meninggalkan pertempuran. Menurut Ahmad Syalabi, mundurnya al-Hasan disertai syarat agar jabatan khalifah sepeninggalnya nanti diputuskan berdasarkan musyawarah di antara sesama kaum Muslimin. Akan tetapi, tampaknya Mu’awiyah ra. menganggap batal syarat itu dengan meninggalnya al-Hasan ra. terlebih dahulu di sekitar tahun 47-51 H. Bahkan, secara sepihak ia menobatkan anaknya sendiri sebagai calon pengganti khalifah sepeninggal dirinya nanti.
                        Peradaban semakin berkembang saat ini namun Kemudian, sepeninggal ‘Umar bin ‘Abd al-’Aziz sebagai Khalifah terakhir, Dinasti Umayah kembali mengalami degradasi moral dan politik, sehingga berakhir dengan penggulingan kekuasaan oleh Dinasti Abbasiyyah yang didukung oleh militer Khurasan dan propaganda Syi’ah.[2]
B.     Pendidikan Pada Masa Bani Umayyah
              Nampaknya pendidikan Islam pada masa periode Dinasti Umayyah ini hampir sama dengan pendidikan pada masa Khulafa Ar-Rasyiddin. Para Khulafa agaknya kurang memperhatikan bidang pendidikan, sehingga perkembangannya pun kurang maksimal. Meskipun demikian, Dalam bidang ini, dinasti Umayyah memberikan andil yang cukup signifikan bagi perkembangan budaya Arab pada masa sesudahnya, terutama dalam pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, sastra, dan filsafat.
            Bila dibandingkan dengan masa Khulafa Ar-Rasyidin, pola pendidikan Islam pada periode Dinasti Umayyah telah mengalami perkembangan. Hal ini ditandai dengan semaraknya kegiatan ilmiah di tempat-tempat yang telah disediakan untuk kegiatan tersebut. Materi yang diajarkan bertingkat- tingkat dan bermacam-macam, dimana kurikulumnya telah disesuaikan dengan tingkatannya masing-masing. Metode pengajarannya pun tidak sama. Sehingga melahirkan beberapa pakar ilmuwan dalam berbagai bidang tertentu. [3]
              Jadi disamping melakukan ekspansi territorial, pemerintahan dinasti bani Umayyah juga menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan  dengan menyediakan sarana dan pra sarana. Hal ini di lakukan agar para ilmuwan, seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu yang berkembang sekarang ini adalah:
5.      Ilmu Agama
6.      Ilmu sejarah dan geografi
7.      Ilmu pengetahuan bidang bahasa
8.      Ilmu bidang filsafat
              Khalifah Al-Walid mendirikan sekolah kedokteran, ia melarang para penderita kusta meminta-minta di jalan bahkan khalifah menyediakan dana khusus bagi para penderita kusta. Pada zaman ini sudah ada jaminan sosial bagi anak-anak yatim dan anak terlantar.[4]
                       Karena kondisi ketika itu diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politis dan golongan, di dunia pendidikan, terutama di dunia sastra, sangat rentan dengan identitasnya masing-masing. Sastra Arab, baik dalam bidang syair, pidato (khitobah), dan seni prosa, mulai menunjukkan kebangkitanya. Para raja mempersiapkan tempat balai-balai pertemuan penuh hiasan yang indah dan hanya dapat di masuki oleh kalangan sastrawan dan ulama-ulama terkemuka. Menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi:
           Balai-balai pertemuan tersebut mempunyai tradisi khusus yang mesti diindahkan; seorang yang masuk ketika khalifah hadir, mestilah berpakaian necis, bersih, rapi, duduk di tempat yang sepantasnya, tidak tertawa terbahak-bahak dan tidak meludah, tidak mengingus dan tidak menjawab kecuali ditanyai. Ia tidak boleh bersuara keras dan harus menjadi pendengar yang baik, sebagaimana dia harus belajar bertukar kata dengan sopan dan memberi kesempatan kepada si pembicara  menjelaskan pembicaraannya, serta menghindari penggunaan kata-kata  yang kasar dan gelak tawa terbahak-bahak. Dalam balai-balai pertemuan seperti ini, disediakan pokok-pokok persoalan untuk dibicarakan, didiskusikan,dan diperdebatkan”.
                       Pada zaman ini, juga dapat disaksikan adanya gerakan penerjemahan ilmu-ilmu yang mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedokteran, falak, ilmu tatalaksana, dan seni bangunan. Pada umumnya, gerakan penerjemahan ini terbatas kepada orang-orang tertentu dan atas usaha sendiri, bukan atas dorongan negara dan tidak dilembagakan. Menurut Franz Rosenthal, orang yang pertama kali melakukan penerjemahan ini adalah Khallid ibn Yazid, cucu dari Muawiyyah.
      Selain beberapa materi diatas, pada masa ini juga tampaknya masih melanggengkan ilmu-ilmu yang diletakkan pada masa sebelumnya, seperti ilmu tafsir. Ilmu tafsir ini semakin menjadi niscaya dan memiliki makna yang strategis. Di samping karena faktor luasnya kawasan Islam ke beberapa daerah luar Arab yang membawa konsekwensi lemahnya rasa seni sastra arab, juga karena banyak orang yang masuk Islam. Hal ini mengakibatkan pencemaran bahasa Al-Qur’an dan pemaknaan Al-Qur’an yang digunakan untuk kepentingan golongan tertentu. Pencemaran Al-Qur’an juga disebabkan oleh faktor interpretasi yang didasarkan pada kisah-kisah Israiliyat dan Nasraniyat.
      Bersamaan dengan itu, kemajuan yang diraih dalam dunia pendidikan pada saat itu adalah dikembangkannya ilmu nahwu yang digunakan untuk memberikan tanda baca, pencatatan kaidah-kaidah bahasa, dan periwayatan bahasa. Sungguhpun terjadi perbedaan mengenai penyusun ilmu nahwu, tetapi disiplin ilmu ini menjadi cirri kemajuan tersendiri pada masa ini.
      Selain disiplin ilmu tafsir pada masa ini juga, hadits dan ilmu hadits mendapat perhatian secara serius. Pentingnya periwayatan hadits sehingga dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara moral mendapat perhatian luas. Namun, keberhasilan yang diraihnya adalah untuk mencari hadits, belum mencapai tahap kodifikasi. Khalifah Umar ibn Abd Al-Aziz yang memerintah hanya dua tahun, yakni tahun 99-101 H/717-720 M, pernah mengirim surat pada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amir ibn Ham dan kepada ulama-ulama yang lain untuk menuliskan dan mengumpulkan hadits-hadits. Namun, hingga dengan masa akhir kepemerintahannya, hal itu tidak terlaksana. Sungguhpun  demikian, perintah Umar ibn Al-Aziz telah melahirkan metode pendidikan alternative, yakni para ulama mencari hadits ke berbagai tempat dan orang yang dianggap mengetahuinya yang kemudian dikenal dengan metode rihlah.[5]
      Dibidang hukum fiqih, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu aliran ahli al-ra’y dan aliran al-hadits. Kelompok aliran pertama mengembangkan hukum Islam dengan menggunakan analogi bila terdapat masalah yang belum ditentukan hukumnya. Aliran ini berkembang di Irak yang dimotori oleh Syuri’ah ibn Al-Harits (w.78 H/697 M), Alqamah ibn Qa’is(w.62 H/681 M), masruq al-Ajda’, al-Aswad ibn yazid, yang kemudian diikuti oleh Ibrahim  al-Nakhai, dan Amr ibn Syurahbil al-Sya’by. Sesudah itu digantikan oleh Hammad ibn Abu Sulaiman, yang kemudian menjadi guru Abu Hanifah.
      Aliran kedua, ahl al- hadits,  lebih berpegang pada dalil-dalil secara literal, bahkan aliran ini tidak akan memberikan fatwa jika tidak ada ayat Al-Qur’an atau hadits yang menerangkannya. Diantara pelopor aliran ini adalah ibn Syihab al-Zuhri(w.124 H/741 M) dan Nafi’ Maula Abdullah ibn Umar(w.117 H/735 M) yang keduanya merupakan guru imam malik ibn Annas(w.117 H/735 M).[6]
C.    Bentuk Pendidikan Dan Pusat Pendidikan
              Periode dinasti Umayyah ini  merupakan masa inkubasi. Pada masa ini peletakan  dasar-dasar dari kemajuan pendidikan di munculkan. Jadi intelektual muslim berkembang saat ini. Pola pendidikan saat ini di sentralisasi, tidak memiliki tingkatan dan standart umum. Kajian keilmuan yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kuffah, Makkah, Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya. Dan ilmu-ilmu yang dikembangkan ialah seperti kedokteran, filsafat, astronomi, sastra, dan kesenian. Jadi pada pemerintahan ini pendidikan tidak hanya berpusat di madinah, seperti pada masa Rasull dan para sahabat (Khulafa’ur Ar-rasyidin) melainkan ilmu telah mengalami ekspansi  seiring dengan ekspansi Teritorial.[7]
                        Usaha untuk mencari dan menghafal hadis lebih digalakkan lagi, sehingga di beberapa daerah kekuasaan Islam telah didirikan perguruan untuk mengajarkan Alquran dan hadis Nabi saw. Bentuk kelembagaan pendidikan Islam kala itu sebenarnya masih meneruskan bentuk-bentuk yang dikenal sebelumnya, yaitu kuttab dan halaqah. Sedangkan lembaga pendidikan yang relatif baru kala itu adalah majelis sastra dan pendidikan privat di istana. Adapun madrasah belum dikenal dalam pengertian sekarang, meskipun sering ditemukan istilah madrasah tafsir atau madrasah tasawuf. [8]
*      Di bawah ini akan di jelaskan tentang bentuk pendidikan:
a.       Kuttab
                        Kuttab secara kebahasaan berarti tempat belajar menulis. Istilah sejenisnya adalah maktab. Di dalam sejarah pendidikan Islam, kuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Alquran serta belajar pokok-pokok ajaran Islam. Adapun cara yang dilakukan oleh pendidik, di samping mengajarkan Al Quran mereka juga mengajar menulis dan tata bahasa serta tulisan. Perhatian mereka bukan tertumpu mengajarkan Alquran semata dengan mengabaikan pelajaran yang lain, akan tetapi perhatian mereka pada pelajaran sangat pesat. Menurut Zuhairini, Al-Quran dipakai sebagai bahasa bacaan untuk belajar membaca, kemudian dipilih ayat-ayat yang akan ditulis untuk dipelajari. Di samping belajar menulis dan membaca, murid-murid juga mempelajari tatabahasa Arab, cerita-cerita Nabi, hadis dan pokok agama.
b.      Halaqah (mesjid)
               Pada Dinasti Umayyah, Masjid merupakan tempat pendidikan tingkat menengah dan tingkat tinggi setelah Kuttab. Materi pendidikannya meliputi Al-Quran, tafsir, hadis dan fiqh. Juga diajarkan kesusasteraan, sajak, gramatika bahasa, ilmu hitung dan ilmu perbintangan (astronomi). Di antara jasa besar pada periode Dinasti Umayyah dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah menjadikan Masjid sebagai pusat aktifitas ilmiah termasuk sya’ir, sejarah bangsa terdahulu, diskusi dan pembahasan akidah.
                        Pada Dinasti Umayyah ini, masjid sebagai tempat pendidikan terdiri dari dua tingkat yaitu:
*      Tingkat menengah misalnya:
a.       Al-Qur’an dan tafsirnya
b.      Hadits dan pengumpulannya
c.       Fiqh
*      Tingkat tinggi misalnya:
a.       Tafsir Al-Qur’an
b.      Hadits
c.       Fiqih dan ushul fiqih
d.      Nahwu sharaf
e.       Balaghah
f.       Bahasa dan saatranya

 Hal ini misalnya dapat dilihat pada halaqah-halaqah di Mesjid Nabawi. Pada tingkat menengah guru belumlah ulama besar. Hal ini misalnya dapat dilihat pada halaqah-halaqah kecil pada paroh akhir abad I H di Mesjid Nabawi. Sedangkan pada tingkat tinggi gurunya adalah ulama yang dalam ilmunya dan masyhur kealiman dan keahliannya, seperti Hasan al-Bashri dengan halaqah besarnya di Mesjid Bashrah, atau Sa’id ibn al-Musayyab di Mesjid Nabawi.[9]
c.       Pendidikan Di Istana
         Pendidikan anak di istana  berbeda dengan pendidikan anak – anak di kuttab pada umumnya. Di istana orang tua murid (para pembesar di istana) adalah yang membuat rencana pelajaran dan tujuan yang di kehendaki oleh orang tuanya. Guru yang mengajar di istana itu di sebut mu’addib. Kata mu’addib berasal dari kata adab, yang berarti budi pekerti atau meriwayatkan.[10]
            Rencana pelajaran untuk pendidikan di istana pada garis besarnya sama saja dengan rencana pelajaran pada kuttab-kuttab, hanya ditambah atau dikurangi menurut kehendak para pembesar yang bersangkutan, dan selaras dengan keinginan untuk menyiapkan anak tersebut secara khusus untuk tujuan-tujuan dan tanggung jawab yang akan dihadapinya dalam kehidupannya nanti.
            Pendidikan di istana,  tidak hanya pengajaran tingkat rendah, tetapi lanjut pada pengajaran tingkat tinggi sebagaimana halaqah, masjid dan madrasah. Guru istana dinamakan dengan muaddib. Tujuan pendidikan istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan, bahkan muaddib harus mendidik kecerdasan, hati dan jasmani anak sebagaimana ungkapan Abdul Malik ibn Marwan sebagai berikut: “Ajarkan kepada anak- anak itu berkata benar sebagaimana kau ajarkan Al-Qur’an. Jauhkan anak-anak itu dari pergaulan orang-orang buruk budi, karena mereka amat jahat dan kurang adab. Jauhkan anak-anak itu dari pemalu karena pemalu itu merusak mereka. Gunting rambut mereka supaya tebal kuduknya. Beri makan mereka dengan daging supaya kuat tubuhnya. Ajarkan syair kepada mereka supaya mereka menjadi orang besar dan berani. Suruh mereka menyikat gigi dan minum air dengan menghirup perlahan-lahan bukan dengan bersuara,(seperti hewan). Kalau engkau hendak mengajarkan adab kepada mereka hendaklah dengan tertutup tiada di ketahui oleh seorang pun.”
d.      Nasihat Pembesar Kepada Muaddib.
            Sebagaimana pembesar Hisyam ibn Abdul Malik kepada guru anaknya Sulaiman al-Khalby: .      “Sesungguhnya anakku ini adalah cahaya matamu. Aku serahkan kepada engkau untuk memberi adab kepadanya. Maka, tugas engkau adalah bertakwa kepada Allah dan menunaikan amanah. Wasiatku yang pertama kepada engkau supaya engkau ajarkan kepadanya kitabulah. Kemudian engkau riwayatkan kepadanya syair – syair yang baik. Sesudah itu engkau ajarkan riwayat kaum Arab dan syair mereka yang baik. Perlihatkan kepadanya sebagian yang halal dan yang haram serta pidato pidato dan riwayat peperangan”.
e.       Badiah
            Dengan adannya Arabisasi oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan, maka muncullah istilah badiah. Akibat dari Arabisasi ini muncullah ilmu Qawa’id dan cabang ilmu lainnya untuk mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab ini sudah sampai ke Irak, Syiria, Mesir, dll. Sehingga banyak Khalifah mengirim anaknya ke Badiah untuk belajar bahasa arab di antaranya: Al-Khalil ibn Ahmad.
f.       Perpustakaan
            Al-Hakam ibn Nasir mendirikan perpustakaan besar di kurtubah (Cordova)
g.      Baramisthan (Rumah Sakit)

D.    Segi Tujuan Pendidikan (Aspek Aksiologis)
            Dari segi tujuan, pendidikan Islam di masa Bani Umayah dapat dikatakan masih merupakan kelanjutan dari masa khulafa al-Rasyidin, yang sebagaimana dikatakan oleh Samsul Nizar, secara ideal dan global tujuan pendidikan Islam yang berkembang kala itu masih relatif seragam, yaitu bertujuan sebagai wujud pengabdian baik secara vertikal kepada Allah swt maupun secara horisontal kepada manusia dan alam. Adapun secara khusus (praktis-pragmatis), tujuan pendidikan di masa itu tergantung jenjang pendidikan yang ditempuh, yaitu:
a.       Pada jenjang kuttab, tujuan pendidikan adalah untuk memenuhi kebutuhan keilmuan dasar agama dan keilmuan serta kecakapan hidup sehari-hari seperti membaca, menulis, dan berhitung.
b.      Pendidikan privat istana juga memiliki tujuan seperti kuttab, hanya saja pendidikan istana juga menekankan pada penguasaan bahasa Arab yang fasih.
c.       Pada jenjang halaqah, karena kebanyakan yang diajarkan adalah ilmu-ilmu syar’i, maka pendidikan bertujuan untuk mendalami masalah-masalah agama yang bersifat praktis bagi kehidupan sehari-hari.
d.      Pada bentuk majelis sastra, pendidikan secara umum bertujuan untuk mendalami masalah-masalah di bidang sastra dan sejarah, di samping untuk mengevaluasi wacana-wacana keagamaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.
E.     Metode-Metode Pembelajaran
1.      Demonstrasi
2.      Rihlah
3.      Diskusi
4.      Halaqoh
F.     Tokoh-Tokoh Pada Masa Bani Umayyah
              Tokoh-tokoh pendidikan pada masa Bani Umayyah terdiri dari ulama-ulama yang menguasai bidangnya masing-masing seperti dalam bidang tafsir, hadist, dan Fiqh. Selain para ulama juga ada ahli bahasa/sastra.
1.      Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin Al-Ajda’, Qatadah. Pada masa tabi’in tafsir Al-Qur’an bertambah luas dengan memasukkan Israiliyat dan Nasraniyat, karena banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani memeluk agama Islam. Di antara mereka yang termasyhur: Ka’bul Ahbar, Wahab bin Munabbih, Abdullah bin Salam, Ibnu Juraij
2.      Ulama-ulama Hadist yaitu: Abu Hurairah, ‘Aisyah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas ,Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik. Kitab bacaan satu-satunya ialah al-Qur’an. Sedangkan hadis-hadis belumlah dibukukan. Hadis-hadis hanya diriwayatkan dari mulut ke mulut. Dari mulut guru ke mulut muridnya, yaitu dari hafalan guru diberikannya kepada murid, sehingga menjdi hafalan murid pula dan begitulah seterusnya. Setengah sahabat dan pelajar-pelajar ada yang mencatat hadist-hadist itu dalam buku catatannya, tetapi belumlah berupa buku menurut istillah kita sekarang. [11]
3.      Ahli bahasa/sastra: Seorang ahli bahasa seperti Sibawaih yang karya tulisnya Al-Kitab, menjadi pegangan dalam soal berbahasa arab. Sejalan dengan itu, perhatian pada syair Arab jahiliahpun muncul kembali sehingga bidang sastra arab mengalami kemajuan. Di zaman ini muncul penyair-penyair seperti Umar bin Abu Rabiah ,Jamil al-uzri ,Qys bin Mulawwah ,yang dikenal dengan nama Laila Majnun, Al-Farazdaq, Jarir, dan Al akhtal.[12]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
              Memasuki masa kekuasaan Mu’awiyah yang menjadi awal pemerintahan  Bani Umayyah ini, pemerintahan yang awalnya bersifat Demokrasi menjadi Monarciheridetis(kerajaan turun menurun). Namun, sesungguhnya Sejarah pembentukan dinasti Umayyah bermula pada era dualisme kepemimpinan di dunia Islam pasca wafatnya Khalifah ‘Alî ra. tanggal 17 Ramadlan tahun 40 H / 660 M. Dinamakan dualisme, karena pada satu pihak Mu’âwiyah ra. dibai’at sebagai khalifah oleh penduduk Syâm, sementara al-Hasan ibn ‘Alî ra. juga dinobatkan sebagai khalifah oleh sebagian sahabat dan penduduk Kufah pada tanggal 25 Ramadlan 40 H.
              disamping melakukan ekspansi territorial, pemerintahan dinasti bani Umayyah juga menaruh perhatian dalam bidang pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan  dengan menyediakan sarana dan pra sarana. Hal ini di lakukan agar para ilmuwan , seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang di kuasainya serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu yang berkembang sekarang ini adalah:
1.      Ilmu Agama
2.      Ilmu sejarah dan geografi
3.      Ilmu pengetahuan bidang bahasa
4.      Ilmu bidang filsafat
Kemudian tentang bentuk pendidikannya:
·         Kuttab
·         Halaqah
·         Pendidikan istana
·         Nasihat Pembesar Kepada Muadlib
·         Badiah
·         Perpustakaan


DAFTAR PUSTAKA

http://banjarhulu.wordpress.com/2012/04/25/potret-pendidikan-islam-di-masa-                       pemerintahan-bani-umayyah/.
Nizar,Samsyul. Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai                                   Indonesia (Jakarta: Kencana, 2008)
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2010)
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hida Karya Agung, 1981)
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2010)


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta:Rajawali Press, 2010), 42.

[2] Badri Yatim, Sejarah,…42.
[3] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hida Karya Agung, 1981),39.
[4] Samsyul Nizar, Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia (Jakarta:Kencana, 2008),60
[5] Mahmud Yunus, Sejarah…42
[6] Ibid,.43
[7] Ibid,.60.
[10] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta:Bumi Aksara,2010), 92.
[11] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta:Hida Karya Agung,1992), 44.